Seorang teman lama menghubungi saya beberapa hari yang lalu, mengajak bertemu entah kapan. Sambil sedikit mengobrol tentang ini itu, saya banyak menanggapinya dengan tertawa, cekikikan, ataupun cengengesan.
Tiba-tiba ia berkata, kamu pasti sedang lelah. Hah? Saya kan dari tadi happy terus, balas saya. Kenapa dia menyimpulkan begitu? Kalau kamu lelah kamu biasanya malah jadi ketawa melulu, begitu jawabnya. Dia lalu bilang saya selalu mengalihkan perhatian saya dengan tertawa sehingga saya tidak (terlalu) merasa lelah, atau sedih. Dia juga menyamakan saya dengan kelinci Energizer (atau Alkaline?) yang tidak ada capenya. Saya tidak tahu apakah seharusnya saya merasa tersanjung atau tersindir, yang jelas saya tertawa.
Dia melanjutkan, kamu juga cenderung berketombe kalau lagi stress atau banyak pikiran. Aduh, informasi memalukan apa pula itu? Walaupun harus saya akui itu benar :D Lalu ia menyebutkan sederet lagi kebiasaan saya yang ia tahu.
Ternyata dia tahu (lumayan) banyak tentang saya.
Hey, nice to know that, buddy :)
Thursday, March 22, 2007
'Dosa' Artis
Kira-kira seminggu yang lalu, saya ditugaskan untuk mendokumentasikan program-program stasiun televisi swasta tempat saya bekerja. Istilah kerennya: photo session. Foto-foto ini di-stok untuk keperluan promo seperti annual material (kalender, agenda, dll), banner, iklan, dan lain sebagainya.
Setelah janji-sana janji-sini dengan para produser, suatu malam, berangkatlah saya ke studio tempat salah satu program ditayangkan live. Kami pergi beramai-ramai: saya, seorang fotografer, seorang anak magang yang membantu fotografer, seorang rekan yang juga fotografer di departemen saya, seorang rekan yang menyupiri, dan seorang rekan penggembira.
Sampai di studio, kami sempat menonton episode taping. Rencananya, photo session akan diadakan pada jeda waktu antara episode taping dan episode live.
Setelah episode taping selesai, kami pun menyiapkan berbagai peralatan untuk memotret. Ketika lampu dan lain-lainnya rapi terpasang, si host yang akan dipotret malah menghilang. Produser pun meminta anak buahnya memanggil si host yang sekarang lumayan terkenal itu. Namun anak buahnya kembali tanpa si host.
Ternyata eh ternyata, si host tidak mau dipotret sekarang. Ia bilang nanti saja setelah shooting live. Ya ampun! Itu berarti jam 11 malam kami baru bisa mulai photo session. Saya mengumpat sebal dalam hati. Si produser pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali meminta maaf pada kami.
Usut punya usut, si host tersinggung dengan ulah salah seorang bintang tamu pada episode taping. Jadi dia ‘ngambek’. Aduh, kok kayak anak kecil saja sih?
Akhirnya, untuk membunuh waktu, kami pun makan bakso di depan studio. Sambil makan, si rekan fotografer bercerita bahwa kejadian ini bukan apa-apa. Seorang artis lain yang menjadi host di stasiun TV tetangga pernah melakukan hal yang lebih ‘dahsyat’ lagi.
Ceritanya, si host itu datang ke studio dan sebal menunggu seorang kru yang terlambat datang. Tanpa ba-bi-bu, ia pun pulang. Shooting pun batal. Wah, bagaimana dengan para penontonnya ya? pikir saya. Ibu-ibu rumah tangga yang kebanyakan menggemari acara itu kan susah payah datang ke studio untuk menonton acaranya langsung. Kasihan juga mereka. datang dengan semangat dan pulang tanpa apa-apa. Padahal yang mereka cari cuma kenangan telah menonton artis idolanya secara langsung di program kesayangannya. Dan, FYI, hal itu tidak terjadi hanya sekali.
Makanya, ketika seorang rekan bilang, “Enak banget jadi artis, bisa seenaknya. Kita jadi artis aja yuk!” saya malah berpikir, nggak ah, ‘dosa’-nya banyak, bikin orang kesel juga. Waktu itu saja sudah ada enam orang yang kesal sama artis pria yang terkenal dengan jargon k****** ** ****** itu. =D
12/9/06 10:13:18 PM
Setelah janji-sana janji-sini dengan para produser, suatu malam, berangkatlah saya ke studio tempat salah satu program ditayangkan live. Kami pergi beramai-ramai: saya, seorang fotografer, seorang anak magang yang membantu fotografer, seorang rekan yang juga fotografer di departemen saya, seorang rekan yang menyupiri, dan seorang rekan penggembira.
Sampai di studio, kami sempat menonton episode taping. Rencananya, photo session akan diadakan pada jeda waktu antara episode taping dan episode live.
Setelah episode taping selesai, kami pun menyiapkan berbagai peralatan untuk memotret. Ketika lampu dan lain-lainnya rapi terpasang, si host yang akan dipotret malah menghilang. Produser pun meminta anak buahnya memanggil si host yang sekarang lumayan terkenal itu. Namun anak buahnya kembali tanpa si host.
Ternyata eh ternyata, si host tidak mau dipotret sekarang. Ia bilang nanti saja setelah shooting live. Ya ampun! Itu berarti jam 11 malam kami baru bisa mulai photo session. Saya mengumpat sebal dalam hati. Si produser pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali meminta maaf pada kami.
Usut punya usut, si host tersinggung dengan ulah salah seorang bintang tamu pada episode taping. Jadi dia ‘ngambek’. Aduh, kok kayak anak kecil saja sih?
Akhirnya, untuk membunuh waktu, kami pun makan bakso di depan studio. Sambil makan, si rekan fotografer bercerita bahwa kejadian ini bukan apa-apa. Seorang artis lain yang menjadi host di stasiun TV tetangga pernah melakukan hal yang lebih ‘dahsyat’ lagi.
Ceritanya, si host itu datang ke studio dan sebal menunggu seorang kru yang terlambat datang. Tanpa ba-bi-bu, ia pun pulang. Shooting pun batal. Wah, bagaimana dengan para penontonnya ya? pikir saya. Ibu-ibu rumah tangga yang kebanyakan menggemari acara itu kan susah payah datang ke studio untuk menonton acaranya langsung. Kasihan juga mereka. datang dengan semangat dan pulang tanpa apa-apa. Padahal yang mereka cari cuma kenangan telah menonton artis idolanya secara langsung di program kesayangannya. Dan, FYI, hal itu tidak terjadi hanya sekali.
Makanya, ketika seorang rekan bilang, “Enak banget jadi artis, bisa seenaknya. Kita jadi artis aja yuk!” saya malah berpikir, nggak ah, ‘dosa’-nya banyak, bikin orang kesel juga. Waktu itu saja sudah ada enam orang yang kesal sama artis pria yang terkenal dengan jargon k****** ** ****** itu. =D
12/9/06 10:13:18 PM
Menyerah
Hari ini, Senin, 20 November 2006, saya tidak masuk kantor. Bukan, bukan karena saya ikut menyambut kedatangan Mr. President George Walker Bush yang membuat kota Bogor mati seharian. Bukan juga karena saya penasaran ingin melihat agen CIA atau SWAT yang di film-film selalu digambarkan sebagai pria-pria yang keren-keren. Tapi karena maag saya – yang sudah lama tidak ‘berkunjung’ – akhirnya kembali menyapa lambung saya.
Dimulai dengan perjalanan kemarin ke 29th Jazz Goes to Campus (JGTC), UI, Depok, yang harus saya datangi untuk keperluan pekerjaan, saya sudah merasa tidak sehat. Kemacetan di mana-mana karena beberapa jalur sudah dialihkan menyambut kedatangan USA 1 (agak maksa menyamakannya dengan RI 1 :p) itu. Demo-demo yang tidak lebih penting dari demo masak juga menambah kemacetan di Bogor. Belum lagi adanya gosip bahwa KRL yang akan saya naiki tidak akan ada di Stasiun Bogor tapi hanya sampai Stasiun Cilebut yang nun jauh di sana – tidak bisa saya konfirmasi kebenarannya karena nomor telepon stasiun yang saya hubungi tidak pernah menjawab (seperti biasa, seperti selama enam tahun terakhir saya menggunakan jasa KRL).
Akhirnya saya menyerah. Saya mencoba menghubungi seorang rekan kerja untuk meminta bantuannya menggantikan saya ke JGTC. Beruntunglah saya, ada yang bisa menggantikan saya.
Setelah berjuang kembali ke rumah, saya mendapati mama saya tersayang hendak pergi ke sebuah acara. Saya tanya ke mana, ia menjawab ke Bekasi. Saya tanya dengan siapa dan naik apa, ia bilang sendiri dan naik kendaraan umum. Mama tahu bagaimana ke sana? tanya saya. Tidak, jawabnya. Tanya saja nanti.
Aduh. Mana mungkin saya tega membiarkan mama saya pergi sendiri? Jadilah saya menemaninya ke Bekasi.
Fisik yang lelah, suasana hati yang tidak stabil (taela), perut kosong, makanan yang tidak higienis, dan matahari yang menyengat, akhirnya mengalahkan saya. Dimulai dengan migraine hebat ketika sampai rumah, dilanjutkan dengan bolak-balik ke toilet yang membuat saya kehilangan banyak cairan tubuh, akhirnya pada dini hari setelah tidur yang tidak tenang, saya – maaf – threw up. Tidak tanggung-tanggung, dua kali dalam semalam.
Akhirnya badan saya menyerah juga. Setelah sebelumnya berulang kali terkena flu, demam, atau radang tenggorokan yang sempat menghilangkan suara saya, saya rasa ini saatnya saya harus benar-benar beristirahat.
Selama ini saya merasa saya cukup kuat menghadapi semuanya. Saya punya keluarga yang menyayangi saya, teman-teman yang memperhatikan saya, dan pekerjaan yang saya sukai untuk menyibukkan diri. Tapi ternyata saya tidak merasa begitu semalam. Dengan tubuh letih, lesu, lemah, lunglai, saya rasa akan menyenangkan bila saya punya teman istimewa untuk berbagi.
I was tired, mentally and physically. Mungkin karena itu saya jadi melantur. Bila saya merasa fit dan merasa I’m-in-the-top-condition, saya malah akan merasa pusing bila punya teman istimewa. Karena si dia (aduh, ’80-an sekali ya sebutannya) hanya akan menyita pikiran saya dan (mungkin) membatasi gerak saya. Sementara yang ingin saya dahulukan saat ini adalah pekerjaan untuk aktualisasi diri (gaya banget ya?).
Dulu saya juga sempat berpikir begini ketika harus pulang kuliah malam-malam. Betapa senangnya bila ada seseorang yang bisa mengantar-jemput saya. Tapi lalu saya berpikir, mungkin saya tidak butuh pacar, tapi supir pribadi :D Dan setelah menemukan solusinya, ngekost, saya lupa lagi pada masalah saya itu.
And here I am, nggak masuk kantor, letih, lesu, lemah, lunglai, sambil tertawa nonton Extravaganza, selintas memikirkan lumayan juga kalau punya pacar kayak Tora Sudiro (hah? Cuma lumayan? :D)…
11/20/06 7:35:58 PM
PS: Masih berkaitan dengan kedatangan Mr. Bush, saya penasaran bagaimana rasanya naik Air Force One. Pengen banget deh. Apalagi ditemani agen CIA atau tim SWAT yang (konon) keren-keren itu. Pasti slurp slurp yummy, hehehe…
Dimulai dengan perjalanan kemarin ke 29th Jazz Goes to Campus (JGTC), UI, Depok, yang harus saya datangi untuk keperluan pekerjaan, saya sudah merasa tidak sehat. Kemacetan di mana-mana karena beberapa jalur sudah dialihkan menyambut kedatangan USA 1 (agak maksa menyamakannya dengan RI 1 :p) itu. Demo-demo yang tidak lebih penting dari demo masak juga menambah kemacetan di Bogor. Belum lagi adanya gosip bahwa KRL yang akan saya naiki tidak akan ada di Stasiun Bogor tapi hanya sampai Stasiun Cilebut yang nun jauh di sana – tidak bisa saya konfirmasi kebenarannya karena nomor telepon stasiun yang saya hubungi tidak pernah menjawab (seperti biasa, seperti selama enam tahun terakhir saya menggunakan jasa KRL).
Akhirnya saya menyerah. Saya mencoba menghubungi seorang rekan kerja untuk meminta bantuannya menggantikan saya ke JGTC. Beruntunglah saya, ada yang bisa menggantikan saya.
Setelah berjuang kembali ke rumah, saya mendapati mama saya tersayang hendak pergi ke sebuah acara. Saya tanya ke mana, ia menjawab ke Bekasi. Saya tanya dengan siapa dan naik apa, ia bilang sendiri dan naik kendaraan umum. Mama tahu bagaimana ke sana? tanya saya. Tidak, jawabnya. Tanya saja nanti.
Aduh. Mana mungkin saya tega membiarkan mama saya pergi sendiri? Jadilah saya menemaninya ke Bekasi.
Fisik yang lelah, suasana hati yang tidak stabil (taela), perut kosong, makanan yang tidak higienis, dan matahari yang menyengat, akhirnya mengalahkan saya. Dimulai dengan migraine hebat ketika sampai rumah, dilanjutkan dengan bolak-balik ke toilet yang membuat saya kehilangan banyak cairan tubuh, akhirnya pada dini hari setelah tidur yang tidak tenang, saya – maaf – threw up. Tidak tanggung-tanggung, dua kali dalam semalam.
Akhirnya badan saya menyerah juga. Setelah sebelumnya berulang kali terkena flu, demam, atau radang tenggorokan yang sempat menghilangkan suara saya, saya rasa ini saatnya saya harus benar-benar beristirahat.
Selama ini saya merasa saya cukup kuat menghadapi semuanya. Saya punya keluarga yang menyayangi saya, teman-teman yang memperhatikan saya, dan pekerjaan yang saya sukai untuk menyibukkan diri. Tapi ternyata saya tidak merasa begitu semalam. Dengan tubuh letih, lesu, lemah, lunglai, saya rasa akan menyenangkan bila saya punya teman istimewa untuk berbagi.
I was tired, mentally and physically. Mungkin karena itu saya jadi melantur. Bila saya merasa fit dan merasa I’m-in-the-top-condition, saya malah akan merasa pusing bila punya teman istimewa. Karena si dia (aduh, ’80-an sekali ya sebutannya) hanya akan menyita pikiran saya dan (mungkin) membatasi gerak saya. Sementara yang ingin saya dahulukan saat ini adalah pekerjaan untuk aktualisasi diri (gaya banget ya?).
Dulu saya juga sempat berpikir begini ketika harus pulang kuliah malam-malam. Betapa senangnya bila ada seseorang yang bisa mengantar-jemput saya. Tapi lalu saya berpikir, mungkin saya tidak butuh pacar, tapi supir pribadi :D Dan setelah menemukan solusinya, ngekost, saya lupa lagi pada masalah saya itu.
And here I am, nggak masuk kantor, letih, lesu, lemah, lunglai, sambil tertawa nonton Extravaganza, selintas memikirkan lumayan juga kalau punya pacar kayak Tora Sudiro (hah? Cuma lumayan? :D)…
11/20/06 7:35:58 PM
PS: Masih berkaitan dengan kedatangan Mr. Bush, saya penasaran bagaimana rasanya naik Air Force One. Pengen banget deh. Apalagi ditemani agen CIA atau tim SWAT yang (konon) keren-keren itu. Pasti slurp slurp yummy, hehehe…
Tora, Tora...

Saya suka Tora Sudiro. Minus tatonya. Pertama kali saya melihat Tora di Arisan! saya bertanya-tanya siapa pria ganteng itu. Ternyata (kalau tidak salah) ia memang baru pertama kali berperan di layar lebar, jadi tak heran bila saya tidak tahu siapa dia. Penampilan pertamanya saya nilai sangat baik sebagai seorang pendatang baru. Tak heran saya pun ‘jatuh cinta’ pada pandangan pertama.
Saya suka Tora. Walaupun saya tidak mengerti filmnya yang lain, Banyu Biru. Saya berusaha keras mencermatinya tapi tetap saja nggak mudeng apa yang sebenarnya dimaksudkan film surealisme itu. (What the hell is surrealism anyway?)
Saya suka Tora. Terutama ketika melihatnya di Extravaganza. Walau kadang-kadang terlihat dorky dan garing nggak jelas, tapi ia tetap lucu buat saya. Sebisa mungkin setiap Sabtu malam saya ada di rumah untuk menikmati banyolannya. Sedangkan setiap Senin malam saya cuma bisa ngarep karena antena TV saya tidak bisa menangkap gambar stasiun TV yang menayangkan Extravaganza. Padahal kost saya persis di sebelah si stasiun TV itu. Ironis bukan? :D
Saya suka Tora. Ketika melihatnya setiap malam Minggu di sinetron Dunia Tanpa Koma. Walau entah kenapa ia agak kaku berakting di sana. Mungkin jiwanya memang bukan seorang Pemimpin Redaksi. Tapi saya tetap suka. Karena tatonya tidak pernah terlihat di sana.
Saya suka Tora. Melihatnya menyayangi kedua putrinya dan berkomitmen penuh dengan istrinya. (Setidaknya terlihat begitu walau saya tidak banyak percaya dengan kehidupan selebriti Indonesia). Saya suka dengan ceritanya bahwa ia seringkali membangunkan anak pertamanya malam-malam begitu ia pulang syuting karena itulah satu-satunya waktu yang tersedia untuk menghabiskan waktu bersama. Saya suka dengan pengakuannya bahwa kalau ada perempuan lain yang membuatnya berpaling dari istrinya, perempuan itu adalah anak-anaknya. Saya suka dengan pernyataannya bahwa ia tidak bisa sembarang mencium lawan mainnya kecuali ada SIM (Surat Izin Mencium) dari istrinya. A family guy with a playboy look? Definitely my kind of guy :D
Saya suka Tora. Ketika membaca perjalanan hidupnya yang dulu tidak penuh dengan tawa namun tetap dijalaninya dengan senyum. Seperti saya yang berusaha menjalani hidup saya.
Saya suka Tora. Mungkin karena itu saya bermimpi bertemu dengannya ketika saya sakit. Mungkin karena ia tipe pria yang saya inginkan. Walaupun masih agak bingung, karena kayaknya nggak segitunya deh yaaa… :D
PS: Sebenarnya saya tetap saja lebih menyukai Keanu Reeves dibanding Tora Sudiro.
Saya suka Tora. Walaupun saya tidak mengerti filmnya yang lain, Banyu Biru. Saya berusaha keras mencermatinya tapi tetap saja nggak mudeng apa yang sebenarnya dimaksudkan film surealisme itu. (What the hell is surrealism anyway?)
Saya suka Tora. Terutama ketika melihatnya di Extravaganza. Walau kadang-kadang terlihat dorky dan garing nggak jelas, tapi ia tetap lucu buat saya. Sebisa mungkin setiap Sabtu malam saya ada di rumah untuk menikmati banyolannya. Sedangkan setiap Senin malam saya cuma bisa ngarep karena antena TV saya tidak bisa menangkap gambar stasiun TV yang menayangkan Extravaganza. Padahal kost saya persis di sebelah si stasiun TV itu. Ironis bukan? :D
Saya suka Tora. Ketika melihatnya setiap malam Minggu di sinetron Dunia Tanpa Koma. Walau entah kenapa ia agak kaku berakting di sana. Mungkin jiwanya memang bukan seorang Pemimpin Redaksi. Tapi saya tetap suka. Karena tatonya tidak pernah terlihat di sana.
Saya suka Tora. Melihatnya menyayangi kedua putrinya dan berkomitmen penuh dengan istrinya. (Setidaknya terlihat begitu walau saya tidak banyak percaya dengan kehidupan selebriti Indonesia). Saya suka dengan ceritanya bahwa ia seringkali membangunkan anak pertamanya malam-malam begitu ia pulang syuting karena itulah satu-satunya waktu yang tersedia untuk menghabiskan waktu bersama. Saya suka dengan pengakuannya bahwa kalau ada perempuan lain yang membuatnya berpaling dari istrinya, perempuan itu adalah anak-anaknya. Saya suka dengan pernyataannya bahwa ia tidak bisa sembarang mencium lawan mainnya kecuali ada SIM (Surat Izin Mencium) dari istrinya. A family guy with a playboy look? Definitely my kind of guy :D
Saya suka Tora. Ketika membaca perjalanan hidupnya yang dulu tidak penuh dengan tawa namun tetap dijalaninya dengan senyum. Seperti saya yang berusaha menjalani hidup saya.
Saya suka Tora. Mungkin karena itu saya bermimpi bertemu dengannya ketika saya sakit. Mungkin karena ia tipe pria yang saya inginkan. Walaupun masih agak bingung, karena kayaknya nggak segitunya deh yaaa… :D
PS: Sebenarnya saya tetap saja lebih menyukai Keanu Reeves dibanding Tora Sudiro.
Wednesday, March 21, 2007
On A Lazy Monday Morning
Written on Nov 12th, 2006
11.27 PM
Pagi ini seharusnya serupa dengan Senin-pagi-Senin-pagi lainnya ketika saya memulai sebuah minggu untuk bekerja. Mungkin yang berbeda hanyalah, pagi ini saya kembali bekerja setelah seminggu puas beristirahat di rumah karena mendapat cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 1427 H (mengutip pengumuman dari HRD di intranet kantor).
Tapi ternyata pagi ini tidak sama dengan pagi-pagi lainnya itu. Pertama, entah kenapa semalam saya mengalami insomnia. Padahal siang sampai malamnya saya pergi dengan seorang sahabat mengelilingi kota Bogor (yah, mungkin agak terlalu berlebihan menyebutnya ‘mengelilingi kota Bogor’, sementara kami hanya mondar mandir dari tempat yang satu ke tempat yang lain di jalan yang sama). Semestinya saya merasa lelah lalu tidur lebih cepat karena besok harus kembali bekerja.
Awalnya saya memang merasa mengantuk. Tapi ternyata dua orang teman menelepon saya untuk mengobrol dengan durasi yang cukup lama. Setelah itu, saya tetap merasa lelah, tapi sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Setelah membaca empat komik, membolak-balik majalah, dan hadap-kanan-hadap-kiri-peluk-guling-tendang-guling-pakai-selimut-buang-selimut di tempat tidur, saya tertidur pukul 4 dini hari (kira-kira begitu, karena terakhir saya melihat jam adalah pukul 4.30 lebih), sementara saya harus bangun pukul 5 subuh.
Setelah memperpanjang jatah tidur sampai setengah enam, saya pun (terpaksa) bangun dengan harapan bisa melanjutkan mimpi di shuttle bus yang akan mengantarkan saya dari rumah ke kantor.
Ternyata mimpi saya itu harus saya buang jauh-jauh. Sesampainya di terminal shuttle bus, saya tidak menemukan bis berwarna putih bergambar logo kompleks perumahan saya itu.
Bersama beberapa penumpang lain yang juga bingung, saya melihat di papan pengumuman bahwa jadwal bis untuk hari ini dan besok adalah jadwal sementara yang selama ini diberlakukan selama libur Lebaran – yang berarti bis pukul 07.00 yang akan saya naiki, tak ada.
Mau tidak mau, saya mengumpat dalam hati. Bagaimana tidak, beberapa hari sebelumnya saya sudah memastikan jadwal untuk hari ini. Dan dari informasi yang saya dapat, jadwal akan kembali normal pada hari ini.
Saya pun bingung. Keberangkatan berikutnya adalah pukul 10.00. dan itu adalah tiga jam lagi. Saya kan sangat telat sampai kantor. Walaupun kantor saya relatif longgar dalam hal jam masuk, tapi tetap saja saya kesal karena waktu saya akan terbuang percuma.
Semula saya sempat berpikir untuk kembali ke rumah. Mungkin akan lebih baik tidur daripada mendongkol tidak keruan. Tapi lalu saya putuskan untuk menunggu sejenak karena para penumpang lain yang senasib mulai berdatangan. Siapa tahu kami bisa bersama-sama naik taksi atau apalah, begitu pikir saya.
Beberapa bapak-bapak mulai naik darah dan membentak petugas yang ada. Ternyata pengumuman perubahan jadwal itu baru ditempel kemarin sore. Ya ampun, libur-libur Lebaran begini siapa juga yang sempat mengecek ke terminal?
Tensi suara di ruangan kantor kecil itu semakin tinggi. Ada seorang bapak menggebrak meja. Sejujurnya, saya tidak suka dengan perbuatan itu. Tapi terbukti hal itu cukup efektif. Si bapak berhasil mendapatkan nomor HP salah seorang bos perusahaan yang menjalankan shuttle bus tersebut, memarah-marahinya juga, sampai seorang montir mengambil keputusan untuk menjalankan bis.
Saya tidak tahu apakah si montir nantinya akan dipuji karena bisa mengambil keputusan atau malah dimarahi bosnya karena sok mengambil keputusan. Saya berharap hal pertamalah yang terjadi. Karena atas jasanyalah, sekitar 20 orang dapat berangkat mencari nafkah. Termasuk saya.
Ada beberapa hal yang saya ‘garisbawahi’ dari pengalaman saya pagi ini. Pertama, tentang jadwal yang (seenaknya) mereka ubah di saat-saat terakhir. Sebagai pekerja media (walaupun masih baru), saya cukup terbiasa dengan perubahan jadwal di saat-saat terakhir. Tapi terkadang kita membiasakan hal itu terjadi. Kita bisa dengan mudahnya membuat janji dengan teman, misalnya, lalu membatalkannya karena malas atau ada acara lain yang lebih menarik. Padahal mungkin teman kita juga punya rencana lain – yang akhirnya juga tidak bisa lakukan karena ia sudah berjanji pada kita.
Saya jadi tersenyum sendiri mengingat betapa seringnya saya melakukan itu. Mudah-mudahan teman-teman saya memaafkan saya karena biasanya itu semata karena tuntutan pekerjaan. Atau saya berusaha memberitahu mereka jauh-jauh waktu, tidak di saat-saat terakhir.
Kedua, seperti yang saya sudah ceritakan, saya tidak begitu suka dengan cara seorang bapak mebentak-bentak sampai menggebrak meja di kejadian ini. Tapi, ya, seperti yang juga telah saya tulis, cara itu efektif dan berhasil membuat saya sampai di kantor tepat waktu.
Apakah kita memang telah terbiasa dengan nada tinggi, bentakan, dan emosi, hanya untuk digerakkan, untuk bekerja? Apakah kita sudah tidak mempan diberitahu lewat kata-kata yang sopan? Apakah kita sudah tidak bisa berubah bila tidak dimarahi terlebih dahulu? Entahlah. Mudah-mudahan saya tidak begitu.
Ketiga, entah kenapa, niat saya untuk tidur sejenak di perjalanan tidak bisa terwujud. Mata ini memang sedang senang melek rupanya. Alhasil, tak terhitung berapa kali saya menguap di kantor.
Oh, well, mungkin seperti kata Boomtown Rats, I (just) Don’t Like (this) Monday (morning)…
12.29 AM on the next day
11.27 PM
Pagi ini seharusnya serupa dengan Senin-pagi-Senin-pagi lainnya ketika saya memulai sebuah minggu untuk bekerja. Mungkin yang berbeda hanyalah, pagi ini saya kembali bekerja setelah seminggu puas beristirahat di rumah karena mendapat cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 1427 H (mengutip pengumuman dari HRD di intranet kantor).
Tapi ternyata pagi ini tidak sama dengan pagi-pagi lainnya itu. Pertama, entah kenapa semalam saya mengalami insomnia. Padahal siang sampai malamnya saya pergi dengan seorang sahabat mengelilingi kota Bogor (yah, mungkin agak terlalu berlebihan menyebutnya ‘mengelilingi kota Bogor’, sementara kami hanya mondar mandir dari tempat yang satu ke tempat yang lain di jalan yang sama). Semestinya saya merasa lelah lalu tidur lebih cepat karena besok harus kembali bekerja.
Awalnya saya memang merasa mengantuk. Tapi ternyata dua orang teman menelepon saya untuk mengobrol dengan durasi yang cukup lama. Setelah itu, saya tetap merasa lelah, tapi sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Setelah membaca empat komik, membolak-balik majalah, dan hadap-kanan-hadap-kiri-peluk-guling-tendang-guling-pakai-selimut-buang-selimut di tempat tidur, saya tertidur pukul 4 dini hari (kira-kira begitu, karena terakhir saya melihat jam adalah pukul 4.30 lebih), sementara saya harus bangun pukul 5 subuh.
Setelah memperpanjang jatah tidur sampai setengah enam, saya pun (terpaksa) bangun dengan harapan bisa melanjutkan mimpi di shuttle bus yang akan mengantarkan saya dari rumah ke kantor.
Ternyata mimpi saya itu harus saya buang jauh-jauh. Sesampainya di terminal shuttle bus, saya tidak menemukan bis berwarna putih bergambar logo kompleks perumahan saya itu.
Bersama beberapa penumpang lain yang juga bingung, saya melihat di papan pengumuman bahwa jadwal bis untuk hari ini dan besok adalah jadwal sementara yang selama ini diberlakukan selama libur Lebaran – yang berarti bis pukul 07.00 yang akan saya naiki, tak ada.
Mau tidak mau, saya mengumpat dalam hati. Bagaimana tidak, beberapa hari sebelumnya saya sudah memastikan jadwal untuk hari ini. Dan dari informasi yang saya dapat, jadwal akan kembali normal pada hari ini.
Saya pun bingung. Keberangkatan berikutnya adalah pukul 10.00. dan itu adalah tiga jam lagi. Saya kan sangat telat sampai kantor. Walaupun kantor saya relatif longgar dalam hal jam masuk, tapi tetap saja saya kesal karena waktu saya akan terbuang percuma.
Semula saya sempat berpikir untuk kembali ke rumah. Mungkin akan lebih baik tidur daripada mendongkol tidak keruan. Tapi lalu saya putuskan untuk menunggu sejenak karena para penumpang lain yang senasib mulai berdatangan. Siapa tahu kami bisa bersama-sama naik taksi atau apalah, begitu pikir saya.
Beberapa bapak-bapak mulai naik darah dan membentak petugas yang ada. Ternyata pengumuman perubahan jadwal itu baru ditempel kemarin sore. Ya ampun, libur-libur Lebaran begini siapa juga yang sempat mengecek ke terminal?
Tensi suara di ruangan kantor kecil itu semakin tinggi. Ada seorang bapak menggebrak meja. Sejujurnya, saya tidak suka dengan perbuatan itu. Tapi terbukti hal itu cukup efektif. Si bapak berhasil mendapatkan nomor HP salah seorang bos perusahaan yang menjalankan shuttle bus tersebut, memarah-marahinya juga, sampai seorang montir mengambil keputusan untuk menjalankan bis.
Saya tidak tahu apakah si montir nantinya akan dipuji karena bisa mengambil keputusan atau malah dimarahi bosnya karena sok mengambil keputusan. Saya berharap hal pertamalah yang terjadi. Karena atas jasanyalah, sekitar 20 orang dapat berangkat mencari nafkah. Termasuk saya.
Ada beberapa hal yang saya ‘garisbawahi’ dari pengalaman saya pagi ini. Pertama, tentang jadwal yang (seenaknya) mereka ubah di saat-saat terakhir. Sebagai pekerja media (walaupun masih baru), saya cukup terbiasa dengan perubahan jadwal di saat-saat terakhir. Tapi terkadang kita membiasakan hal itu terjadi. Kita bisa dengan mudahnya membuat janji dengan teman, misalnya, lalu membatalkannya karena malas atau ada acara lain yang lebih menarik. Padahal mungkin teman kita juga punya rencana lain – yang akhirnya juga tidak bisa lakukan karena ia sudah berjanji pada kita.
Saya jadi tersenyum sendiri mengingat betapa seringnya saya melakukan itu. Mudah-mudahan teman-teman saya memaafkan saya karena biasanya itu semata karena tuntutan pekerjaan. Atau saya berusaha memberitahu mereka jauh-jauh waktu, tidak di saat-saat terakhir.
Kedua, seperti yang saya sudah ceritakan, saya tidak begitu suka dengan cara seorang bapak mebentak-bentak sampai menggebrak meja di kejadian ini. Tapi, ya, seperti yang juga telah saya tulis, cara itu efektif dan berhasil membuat saya sampai di kantor tepat waktu.
Apakah kita memang telah terbiasa dengan nada tinggi, bentakan, dan emosi, hanya untuk digerakkan, untuk bekerja? Apakah kita sudah tidak mempan diberitahu lewat kata-kata yang sopan? Apakah kita sudah tidak bisa berubah bila tidak dimarahi terlebih dahulu? Entahlah. Mudah-mudahan saya tidak begitu.
Ketiga, entah kenapa, niat saya untuk tidur sejenak di perjalanan tidak bisa terwujud. Mata ini memang sedang senang melek rupanya. Alhasil, tak terhitung berapa kali saya menguap di kantor.
Oh, well, mungkin seperti kata Boomtown Rats, I (just) Don’t Like (this) Monday (morning)…
12.29 AM on the next day
Dunia dan Perempuan

Written on November 3rd, 2006
12.29 AM
Saya baru saja pulang dari meeting yang dibatalkan pukul 9.30 malam setelah menunggu empat jam lamanya. Setelah mandi malam-malam (tentunya bukan mandi kembang, karena mandi kembang biasanya tengah malam) dan mencuci (sebagai bagian dari ritual anak kos), saya beristirat sambil mendengarkan radio.
Di radio yang saya dengarkan itu, seorang wanita muda (saya rasa ia masih muda karena segmen radio ini kira-kira 15 – 25 tahunan) menelepon. Dengan suara bergetar dan sedikit terbata-bata, ia curhat bahwa ia hamil di luar nikah dan si pria pacarnya menghilang entah ke mana.
Sambil mendengarkan, saya berpikir betapa tidak adilnya hal seperti itu bagi perempuan. Ketika seorang perempuan hamil di luar nikah, si lelaki punya dua pilihan: kabur, tidak bertanggungjawab atau bertanggungjawab.
They have two choices. Pilihan pertama bisa dinilai ‘menguntungkan’. Tidak harus pusing putus kuliah atau putus sekolah, tidak harus pusing menghadapi orangtua, tidak harus pusing menghadapi masyarakat.
Perempuan juga punya pilihan: melanjutkan kehamilan atau menggugurkannya. Keduanya bisa dibilang tidak menguntungkan. Melanjutkan kehamilan berarti menghadapi orangtua yang marah, sedih, kecewa, dan murka; kemungkinan putus kuliah atau putus sekolah; menghadapi pandangan masyarakat yang merasa paling tahu segalanya; dan mengemban tanggungjawab yang sangat besar sebagai orangtua di usia muda. Pilihan kedua, menggugurkannya, tak kalah menyeramkan: mandul, trauma, rasa bersalah seumur hidup, atau kematian karena tindakan aborsi ilegal. Dua pilihan yang tidak terasa sebagai sesuatu yang bisa dipilih. Dua pilihan yang saya harap tidak pernah harus saya pilih.
And to make it worse, perempuan akan dengan mudahnya mendapat stigma yang sama sekali tidak adil. “Perempuannya juga sih yang kecentilan.” Atau “Dandanannya sih begitu.” Atau “Yah, lagian dia juga kenapa mau.” Kalau ada jargon blame it on the weatherman, dalam kasus ini bisa jadi ada jargon blame it all on the woman.
It takes two to tango. Begitu pula dalam berhubungan. Ada ‘kontribusi’ dari kedua belah pihak: pria dan wanita. Bahkan, in some cases like date-raping, ‘it doesn’t take two to tango’. Tapi dalam hal tanggung jawab, perempuan dihadapkan pada tanggungjawab yang relatif lebih berat.
Saya menulis seperti ini bukan karena saya feminis. Saya menghormati pria dengan batasan mereka juga menghormati saya. Saya cuma berpikir betapa dunia terkadang (atau seringkali?) begitu tidak adil bagi perempuan. Dan saya merasa sedih.
01.01 AM
12.29 AM
Saya baru saja pulang dari meeting yang dibatalkan pukul 9.30 malam setelah menunggu empat jam lamanya. Setelah mandi malam-malam (tentunya bukan mandi kembang, karena mandi kembang biasanya tengah malam) dan mencuci (sebagai bagian dari ritual anak kos), saya beristirat sambil mendengarkan radio.
Di radio yang saya dengarkan itu, seorang wanita muda (saya rasa ia masih muda karena segmen radio ini kira-kira 15 – 25 tahunan) menelepon. Dengan suara bergetar dan sedikit terbata-bata, ia curhat bahwa ia hamil di luar nikah dan si pria pacarnya menghilang entah ke mana.
Sambil mendengarkan, saya berpikir betapa tidak adilnya hal seperti itu bagi perempuan. Ketika seorang perempuan hamil di luar nikah, si lelaki punya dua pilihan: kabur, tidak bertanggungjawab atau bertanggungjawab.
They have two choices. Pilihan pertama bisa dinilai ‘menguntungkan’. Tidak harus pusing putus kuliah atau putus sekolah, tidak harus pusing menghadapi orangtua, tidak harus pusing menghadapi masyarakat.
Perempuan juga punya pilihan: melanjutkan kehamilan atau menggugurkannya. Keduanya bisa dibilang tidak menguntungkan. Melanjutkan kehamilan berarti menghadapi orangtua yang marah, sedih, kecewa, dan murka; kemungkinan putus kuliah atau putus sekolah; menghadapi pandangan masyarakat yang merasa paling tahu segalanya; dan mengemban tanggungjawab yang sangat besar sebagai orangtua di usia muda. Pilihan kedua, menggugurkannya, tak kalah menyeramkan: mandul, trauma, rasa bersalah seumur hidup, atau kematian karena tindakan aborsi ilegal. Dua pilihan yang tidak terasa sebagai sesuatu yang bisa dipilih. Dua pilihan yang saya harap tidak pernah harus saya pilih.
And to make it worse, perempuan akan dengan mudahnya mendapat stigma yang sama sekali tidak adil. “Perempuannya juga sih yang kecentilan.” Atau “Dandanannya sih begitu.” Atau “Yah, lagian dia juga kenapa mau.” Kalau ada jargon blame it on the weatherman, dalam kasus ini bisa jadi ada jargon blame it all on the woman.
It takes two to tango. Begitu pula dalam berhubungan. Ada ‘kontribusi’ dari kedua belah pihak: pria dan wanita. Bahkan, in some cases like date-raping, ‘it doesn’t take two to tango’. Tapi dalam hal tanggung jawab, perempuan dihadapkan pada tanggungjawab yang relatif lebih berat.
Saya menulis seperti ini bukan karena saya feminis. Saya menghormati pria dengan batasan mereka juga menghormati saya. Saya cuma berpikir betapa dunia terkadang (atau seringkali?) begitu tidak adil bagi perempuan. Dan saya merasa sedih.
01.01 AM
First Post on Catatan Kecil
Waw. Akhirnya saya memberanikan diri membuat blog setelah sekian lama hanya membaca blog teman-teman.
Sebenarnya, ini bukanlah blog pertama saya. Saya juga punya blog-blog lain: blog bersama teman-teman Geng Jayus saya, blog di Blogspot yang hanya saya daftarkan tanpa pernah saya isi, blog bersama teman-teman First Reader Team GagasMedia, dan blog di Yahoo 360°. Blog terakhir itu sempat lumayan rajin saya isi, walau hanya sekedar kutipan-kutipan lines dari film yang menyentuh hati saya, atau sebaris perasaan atau pemikiran saya ketika iseng. Saya tidak terlalu serius mengisinya.
Lalu saya mulai bekerja. Waktu untuk bersosialisasi dengan internet menjadi lebih minim karena kesibukan dan tidak memiliki komputer sendiri di kantor mengingat saya anak baru.
Akhir-akhir ini, saya mulai senang mencoret-coret di buku kecil saya. My little blue book (not black book). Notes pemberian rekan-rekan di stasiun televisi ‘tetangga’ yang kini satu grup dengan stasiun televisi tempat saya bekerja. Dan entah kenapa, tiba-tiba untuk pertama kalinya saya ingin punya blog.
Tentang namanya, saya memberi nama blog saya Catatan Kecil. Atau lengkapnya Catatan Kecil Hestia. Saya menambahkan nama saya hanya untuk menegaskan identitas saya di alamat blog yang relatif panjang sehingga mungkin tak ada gunanya karena tak akan ada yang menghapalkannya. Kebanyakan orang mungkin hanya akan membuka halaman blog saya dengan mengklik dari link di profil saya. Jadi, pencantuman nama saya di alamat blog mungkin sama sekali tidak berguna. Tapi tentunya tidak begitu halnya dengan pengakuan ego saya sendiri :D
Mengenai nama Catatan Kecil, dengan sedikit malu saya katakan bahwa saya terinspirasi dari judul Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohammad. Tulisan-tulisan yang selalu saya sukai. Saya malu bukan malu mengakui bahwa saya menyukai Catatan Pinggir tapi (masih) malu mengakui bahwa saya menyandingkan tulisan-tulisan amatiran saya ini dengan sebuah karya yang saya kagumi.
Tapi, yah, nama adalah doa. Jadi saya harap catatan-catatan saya ini kelak akan seperti Catatan Pinggir. Atau setidaknya untuk ego saya sendiri (lagi) :D
Well, selamat membaca. Semoga catatan saya tidak hanya sekedar catatan kecil bagi Anda.
Sebenarnya, ini bukanlah blog pertama saya. Saya juga punya blog-blog lain: blog bersama teman-teman Geng Jayus saya, blog di Blogspot yang hanya saya daftarkan tanpa pernah saya isi, blog bersama teman-teman First Reader Team GagasMedia, dan blog di Yahoo 360°. Blog terakhir itu sempat lumayan rajin saya isi, walau hanya sekedar kutipan-kutipan lines dari film yang menyentuh hati saya, atau sebaris perasaan atau pemikiran saya ketika iseng. Saya tidak terlalu serius mengisinya.
Lalu saya mulai bekerja. Waktu untuk bersosialisasi dengan internet menjadi lebih minim karena kesibukan dan tidak memiliki komputer sendiri di kantor mengingat saya anak baru.
Akhir-akhir ini, saya mulai senang mencoret-coret di buku kecil saya. My little blue book (not black book). Notes pemberian rekan-rekan di stasiun televisi ‘tetangga’ yang kini satu grup dengan stasiun televisi tempat saya bekerja. Dan entah kenapa, tiba-tiba untuk pertama kalinya saya ingin punya blog.
Tentang namanya, saya memberi nama blog saya Catatan Kecil. Atau lengkapnya Catatan Kecil Hestia. Saya menambahkan nama saya hanya untuk menegaskan identitas saya di alamat blog yang relatif panjang sehingga mungkin tak ada gunanya karena tak akan ada yang menghapalkannya. Kebanyakan orang mungkin hanya akan membuka halaman blog saya dengan mengklik dari link di profil saya. Jadi, pencantuman nama saya di alamat blog mungkin sama sekali tidak berguna. Tapi tentunya tidak begitu halnya dengan pengakuan ego saya sendiri :D
Mengenai nama Catatan Kecil, dengan sedikit malu saya katakan bahwa saya terinspirasi dari judul Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohammad. Tulisan-tulisan yang selalu saya sukai. Saya malu bukan malu mengakui bahwa saya menyukai Catatan Pinggir tapi (masih) malu mengakui bahwa saya menyandingkan tulisan-tulisan amatiran saya ini dengan sebuah karya yang saya kagumi.
Tapi, yah, nama adalah doa. Jadi saya harap catatan-catatan saya ini kelak akan seperti Catatan Pinggir. Atau setidaknya untuk ego saya sendiri (lagi) :D
Well, selamat membaca. Semoga catatan saya tidak hanya sekedar catatan kecil bagi Anda.
Subscribe to:
Posts (Atom)